Maret adalah Hari Perfilman Nasional (30 Maret) dan Hari Wanita Indonesia (9 Maret). Keduanya sama-sama punya sejarah yang cukup pelik dalam perjalanan Bangsa Indonesia. Dan usaha untuk menyandingkan dan menganalisis keduanya sudah beberapa kali dilakukan. Misalnya saja, peran beberapa perempuan dalam perfilman di Indonesia oleh ‘admin mobid713’. Kompas
Penulis: Wahmuji
Bahasa, Sastra, Terjemahan
Tahu bagaimana membaca dan memahami frase JANDA 1/3 DIS, PRA ONE THE SAW, atau Air, Money & Chair? Bagi yang hidup berdekatan dengan tetangga yang jadi sopir atau kernet truk, atau yang rumahnya berdekatan dengan pangkalan truk, atau dekat dengan ‘studio’ lukisan bak truk, kata-kata di atas tidaklah asing lagi. Ya, tulisan-tulisan itu adalah hasil daya cipta seniman spesialis belakang truk. Di banyak blog, tulisan-tulisan
“Tokoh-tokoh dalam novel ini membawa saya pada kerinduan menjadi orang Indonesia…A must read!!!”
-Riri Riza –
“Tidak ada tokoh dalam novel Laskar Pelangi.” Kalimat itulah yang menyeruak bagai udara yang bebas dari balon sabun yang meletup dalam kepala saya di sebuah diskusi kecil dengan beberapa teman pada pertengahan Januari (2013) silam. Waktu itu, kami sedang membicarakan sebuah novel berjudul Ulid
